Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Review Buku » Review Buku: Ikhtisar Sejarah Nahdlatul Ulama 1344 H/1926 M

Review Buku: Ikhtisar Sejarah Nahdlatul Ulama 1344 H/1926 M

  • account_circle Evant Andi
  • calendar_month Sabtu, 9 Sep 2023
  • visibility 994
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Buku mungil yang diterbitkan oleh LTN NU ini bercerita secara lugas tentang bagaimana proses lahirnya Nahdlatul Ulama. Mulai sejak pra-kondisi lahirnya NU (1914); tonggak sejarah lahirnya NU (1926); hingga pasca lahirnya NU (1945).

Sesuai yang tersemat di awal judul, ‘ikhtisar’ yang dimaksud di sini terinspirasi dari kitab-kitab mainstream yang kita kenal di pesantren, seperti Mukhtashar Jiddan ‘ala matni al-Jurumiyah. Ikhtisar atau mukhtasar tersebut memiliki makna ringkasan, penyederhanaan, atau inti sari. Sehingga baik dari bentuk, ukuran, dan isi yang terkandung di dalam buku ini sangatlah ringkas. Meski begitu, data, informasi, kata, kalimat, dan logika yang dituliskan sangat dipikirkan dengan matang.

Di awal cerita, kita akan dikenalkan sosok santri muda asal Tambak Beras Jombang yang baru boyong dari Mekkah (1914) bernama Wahab Hasbullah. Sepulangnya dari Makkah dan menetap di Surabaya, Wahab Hasbullah merasakan perlunya melakukan pergerakan dengan mendidik para kader (baca; santri) dalam bentuk taswirul afkar, sebuah pertukaran gagasan. Ide tersebut yang kemudian mengkristal menjadi semacam kursus perdebatan bagi anak-anak muda.

Selain itu Wahab muda bersama Mas Mansur juga membentuk Nahdlatul Wathan (kebangkitan tanah air). Sebuah organisasi yang memiliki asas dan tujuan memperluas dan memperdalam mutu madrasah yang ada, di samping membuka kursus kepemudaan, organisasi, dakwah dan perjuangan.

Makna penting dari dirintisnya Nahdlatul Wathan bukan hanya mendidik calon-calon kiyai dan mendirikan sekolah-sekolah, tetapi apa yang terkandung dalam namanya itu sendiri sudah memberi arti yang sangat mendalam “kebangkitan bangsa”. Sungguh pergerakan yang sangat luar biasa jika dikaitkan dengan dunia pesantren yang akrab dengan tradisi kitab kuning dan arab gundul.

Di sisi lain, semakin tersingkirnya perekonomian lokal oleh penetrasi Belanda dan China, M. Hasyim Asy’ari, Wahab Hasbullah dan pedagang-pedagang kecil di tiga Kota (Surabaya, Jombang, dan Kediri), mendirikan Nahdlatut Tujjar sebagai gerakan ekonomi mandiri. Nama usaha ini dikenal Syirkah al-Inan.

Pondasi tersebut memberi arti bahwa sejak awal para pendiri NU yang sangat legendaris, telah memberikan semangat bahwa dialektika sosial perlu diserap dari segala penjuru. Selain itu perlunya orang-orang pesantren bukan hanya menjadi santri, melainkan ikut berpartisipasi dalam kebangunan bangsa.

Diceritakan pula, Surabaya menjadi tempat yang dinamis, bukan hanya bagi kalangan pedagang, tetapi kaum pergerakan (1920-an). Lebih dari itu, menjadi tempat perdebatan dan pertikaian antara mereka yang terpengaruh ide-ide salafiyah radikal yang diperkenalkan Wahabi yang menyebut dirinya sebagai kaum muda, pembaharu serta menginginkan kembali ke Al-Quran dan Hadits.

Prototype Wahabi tulen mulai bermetamorfosis menjadi Sumatra Thalib. Ada juga yang menjadi nasionalis, komunis dan lain-lain. Situasi berbeda di kerajaan, mereka memberantas praktik-praktik yang dianggap bid’ah dan membunuh kurang dari setengah juta umat Islam yang tidak tunduk.

Atas dasar inilah, KH. A. Wahab Hasbullah mengadakan pertemuan-pertemuan dengan kalangan pesantren dan berujung berdirinya Komite Hijaz dalam sebuah rapat 31 Januari 1926/16 Rajab 1344 sekaligus membentuk organisasi NU yang disahkan oleh GR Erdbrink atas nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda serta AD/ART diakui sebagai perkumpulan Nahdlatul Oelama (NO).

Buku ini juga menggambarkan AD/ART perkumpulan NU di era pertama yang terdiri dari 13 Pasal dan struktur kepengurusan PBNU. Bahkan, penulis menegaskan banyak kiai-kiai pendahulu yang tidak tercatat dalam struktur kepengurusan, khususnya kyai di Jawa Timur yang terlibat mendirikan NU dan ikut serta mempersiapkan Komite Hijaz, seperti KH Noer Hasan, KH Faqih Maskumambang Gresik, KH Muhammad Hasan Genggong, KHR Syamsul Arifin, KHR As’ad Syamsul Arifin, KH Maksum Ahmad dan kiai lainnya.

Dipaparkan pula, Kongres ke-1 sampai ke-15 (1926-1940) yang pada awalnya dihelat setahun sekali tersebut, berada di masa jajahan VOC. Kongres diadakan di berbagai daerah untuk menghimpun para ulama dan dukungan umat Islam untuk bergabung ke dalam NU. Cabang pertama didirikan di luar Jawa adalah di Kalimantan, kemudian 6 cabang di Jawa Barat; 21 di Jawa Tengah; 18 di Jawa Timur.

Buku yang diterbitkan di awal abad ke-2 NU ini menggambarkan pada hari Jumat Legi 17 Agustus 1945, proklamasi dibacakan Bung Karno atas nama rakyat Indonesia. Dua tokoh penting yang mewakili NU sejak dibentuknya Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) adalah Kiai Wahid Hasyim dan KH Masjkur. Ditetapkannya Bung Karno sebagai Presiden, Kiai Wahid Hasyim terpilih dalam kabinet menteri negara.

Identitas Buku:
Judul: Ikhtisar Sejarah Nahdlatul Ulama 1344 H/1926 M
Penulis: Nur Khalik Ridwan, Ali Usman
Penerbit: Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTN PBNU)
Tahun Terbit: Cetakan I, Maret 2023
Tebal Buku: 197 halaman
Peresensi: Firdausi, Ketua LTNNU Sumenep

Penulis

Suka menulis hal receh, tapi kadang ujungnya serius.

Rekomendasi Untuk Anda

  • PAC GP Ansor Balapulang Resmi Luncurkan Badan Usaha Milik Ansor Play Button photo_camera 3

    PAC GP Ansor Balapulang Resmi Luncurkan Badan Usaha Milik Ansor

    • calendar_month Kamis, 4 Des 2025
    • account_circle Ansor Balapulang
    • visibility 636
    • 0Komentar

    Balapulang, Tegal — Dalam upaya memperkuat organisasi, Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Balapulang resmi meluncurkan Badan Usaha Milik Ansor (BUMA) dengan unit usaha berupa Patriot Ketahanan Pangan dan juga Ansor Store dalam acara Inaugurasi dan Launching BUMA PAC GP Ansor Balapulang (30/11/2025). Program “Patriot Ketahanan Pangan” dengan aksi nyata berupa penanaman 10.000 bibit singkong […]

  • Sejumlah 1.160 Mustahiq di Kecamatan Balapulang Terima Zakat Dari LAZIZNU Kab. Tegal

    Sejumlah 1.160 Mustahiq di Kecamatan Balapulang Terima Zakat Dari LAZIZNU Kab. Tegal

    • calendar_month Kamis, 13 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 391
    • 0Komentar

    BALAPULANG, Ansor Balapulang – Kamis 13 April 2023 bertempat di halaman gedung MWCNU Kecamatan Balapulang, sebanyak 1.160 warga fakir miskin dan yatim piatu menerima zakat dari PCNU Kabupaten Tegal melalui LAZIZNU. Penyaluran zakat tersebut merupakan salah satu program PCNU yang dilaksanakan setiap tahunnya kepada sejumlah warga yang termasuk kategori fakir miskin dan yatim piatu. Penerima […]

  • Menata Kaderisasi, Meningkatkan Kinerja Organisasi

    Menata Kaderisasi, Meningkatkan Kinerja Organisasi

    • calendar_month Jumat, 17 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 517
    • 0Komentar

    NU.OR.ID – Salah satu keputusan Konferensi Besar (Konbes) NU 20-22 Mei 2022 adalah penataan ulang kaderisasi NU yang sebelumnya terdiri dari Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) dan Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU). PBNU melakukan penyempurnaan dengan penjenjangan kaderisasi menjadi tiga tingkat. Pengaderan yang lebih tertata ini merupakan bagian dari konsolidasi organisasi. Tanpa kader yang […]

  • Usai Dilantik, PAC GP ANSOR Kecamatan Balapulang langsung Gelar Rapat Kerja

    Usai Dilantik, PAC GP ANSOR Kecamatan Balapulang langsung Gelar Rapat Kerja

    • calendar_month Senin, 27 Feb 2023
    • account_circle Ansor Balapulang
    • visibility 473
    • 1Komentar

    BALAPULANG – Ahad, 26 Februari 2023 bertempat di gedung MWC NU Kecamatan Balapulang, usai pelantikan Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda ANSOR Kecamatan Balapulang, Pengurus harian langsung melaksanakan Rapat Kerja (Raker I) dengan seluruh Pengurus Lembaga. Dalam penyusunan program kerja, Pengurus Harian mengusung tema “Ansor Maju, Implementasi Kemandirian Ekonomi”. Tema tersebut kemudian dituangkan dalam Visi dan Misi […]

  • Dua Logo, Satu Semangat: Menelisik Makna Filosofis Logo Hari Santri 2026 Versi Kemenag dan PBNU

    Dua Logo, Satu Semangat: Menelisik Makna Filosofis Logo Hari Santri 2026 Versi Kemenag dan PBNU

    • calendar_month Minggu, 4 Okt 2026
    • account_circle Evant Andi
    • visibility 1.341
    • 0Komentar

    Hari Santri Nasional diperingati setiap tahunnya pada tanggal 22 Oktober. Penentuan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri oleh Presiden Joko Widodo. Dalam perjalanannya, Hari Santri merupakan supremasi dari perjuangan para santri dan ulama pesantren. Peringatan Hari Santri Nasional tak lepas dari akar sejarah panjang kemerdekaan Indonesia. Hari […]

  • Terpilih Kembali Menjadi Ketua Ranting Tembongwah, Abdul Aziz Komitmen Selesaikan Program

    Terpilih Kembali Menjadi Ketua Ranting Tembongwah, Abdul Aziz Komitmen Selesaikan Program

    • calendar_month Jumat, 20 Jun 2025
    • account_circle admin
    • visibility 792
    • 0Komentar

    TEMBONGWAH, Ansor Balapulang – Pada Rabu, 18 Juni 2025, Pimpinan Ranting Tembongwah sukses mengadakan Rapat Anggota di gedung pertemuan Majelis Ta’lim Riyadul Janah. Rapat Anggota tersebut merupakan program terakhir yang dijalankan oleh Pimpinan Ranting Tembongwah guna memilih pemimpin baru yang akan menjadi ketua selama dua tahun ke depan. Hadir dalam acara tersebut Pimpinan Anak Cabang […]

expand_less