Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel » Menata Kaderisasi, Meningkatkan Kinerja Organisasi

Menata Kaderisasi, Meningkatkan Kinerja Organisasi

  • account_circle admin
  • calendar_month Jumat, 17 Mar 2023
  • visibility 471
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

NU.OR.ID – Salah satu keputusan Konferensi Besar (Konbes) NU 20-22 Mei 2022 adalah penataan ulang kaderisasi NU yang sebelumnya terdiri dari Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) dan Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU). PBNU melakukan penyempurnaan dengan penjenjangan kaderisasi menjadi tiga tingkat. Pengaderan yang lebih tertata ini merupakan bagian dari konsolidasi organisasi. Tanpa kader yang mumpuni dan militan, kinerja organisasi yang baik akan sulit tercapai.  

Pengaderan tingkat pertama disebut PD-PKPNU atau Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama. Tingkat kedua adalah PKMNU atau Pendidikan Kader Menengah Nahdlatul Ulama. Ketiga, tingkat tinggi yaitu AKN-NU atau Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama yang konsepnya seperti Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) versi NU. Semakin tinggi tingkat kepengurusan, maka dibutuhkan persyaratan pengaderan yang semakin tinggi pula.

Materi pengaderan baru merupakan kesinambungan dari pengaderan yang sudah ada sebelumnya. Kurikulumnya mengacu kepada materi di PKPNU dan MKNU ditambahkan dengan materi baru yang menyangkut visi ketua umum dan program kepengurusan periode 2022-2027.

Selain pengakuan terhadap pengaderan yang sudah ditempuh sebelumnya, pengaderan yang sudah dilakukan di badan otonom NU juga diakui dengan level satu tingkat di bawahnya, kecuali bagi IPNU dan IPPNU yang diakui dua tingkat di bawahnya. Sebagai ilustrasi, Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) di GP Ansor akan disetarakan dengan pengaderan di tingkat menengah yakni PKMNU; sementara Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) di GP Ansor, disetarakan dengan pengaderan tingkat dasar yaitu PD-PKPNU.

Selanjutnya, para santri yang telah menempuh pendidikan di beberapa pesantren induk seperti Lirboyo, Ploso, Sidogiri, Sarang, atau pesantren lain yang masuk kategori tersebut juga dapat disetarakan dengan pengaderan level dasar. Dengan demikian, para alumni pesantren induk dapat menjadi pengurus NU tanpa mengikuti pengaderan awal, khususnya pada kepengurusan yang hanya membutuhkan pengaderan level dasar.

Sebagai organisasi keagamaan dan sosial yang memiliki nilai tertentu, pengaderan merupakan suatu hal yang sifatnya mutlak. Nahdlatul Ulama akan mencapai usia satu abad dalam beberapa tahun mendatang. Sejak didirikan tahun 1926, kepengurusan dan kepemimpinan telah berganti dari generasi ke generasi berikutnya. Para santri dan aktivis muda NU saat ini merupakan orang-orang yang akan memegang kendali kepemimpinan NU pada periode 20-30 tahun mendatang. Dengan demikian, penanaman nilai-nilai NU dan Aswaja mesti dilakukan secara terus menerus dan berjenjang untuk memastikan bahwa nilai dasar NU tidak berubah.

Hal lain yang mendorong semakin pentingnya pengaderan adalah berkembangnya jangkauan perkumpulan NU di banyak tempat dan wilayah geografis yang mana organisasi NU kurang berkembang di sana. Para pengurus NU di tempat tersebut mesti memiliki kesamaan pandang dalam berbagai persoalan, baik dalam pandangan keagamaan atau konsep bernegara. Apalagi jika sebelumnya mereka telah bersentuhan dengan organisasi lain, yang sangat mungkin tanpa disadari akan mempengaruhi sudut pandang dalam mengelola NU.

Dunia yang semakin terbuka menjadi peluang sekaligus tantangan bagi NU. Keterbukaan memungkinkan NU menyebarkan nilai dan ajarannya ke seluruh penjuru dunia; di sisi lain, keterbukaan membuat warga NU terpapar nilai-nilai lain, baik itu berupa beragam fikrah dalam Islam atau ideologi lain seperti liberalisme, kapitalisme, sosialisme, dan lainnya. Tanpa pemahaman keagamaan dan ideologi yang kokoh para pengurusnya, NU akan  diombang-ambingkan oleh berbagai kepentingan.

Menjadi pengurus NU tidak cukup sekadar menjalani amaliah keagamaan yang selama ini dijalani seperti tahlilan, baca doa qunut, bertarekat, shalawatan, istighotsah atau lainnya. Para pengurus NU harus memiliki fiikrah (pemikiran) yang sama dalam aspek teologis, fiqih, maupun dalam bidang tasawuf. NU juga memiliki sikap dasar bertindak yang meliputi tasamuh (toleran), tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), dan ‘adalah (adil). Tak cukup sama dalam aspek amaliah dan fikrah, para pengurus NU wajib memiliki harakah (gerakan) yang sama.

Amaliah dan fikrah NU akan terimplementasi dalam harakah organisasi yang dapat dimaknai dalam gerakan sosial kemasyarakatan NU. Amaliah dan fikrah merupakan konsep yang abstrak, sedangkan harakah merupakan wujud nyata eksistensi organisasi yang tercermin dalam kontribusi NU dalam berbagai bidang sosial kemasyarakatan seperti pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Pengaruh dan eksistensi NU ke depan, ditentukan oleh harakah tersebut.  

Setelah resmi disahkan dalam konbes, langkah selanjutnya tinggal bagaimana mengimplementasikan program pengaderan tersebut ke seluruh tingkat kepengurusan NU. Jumlah alumni pengaderan PKPNU dan MKNU sudah mencapai ribuan. Mereka telah melakukan berbagai gerakan dan inovasi untuk kemajuan NU. Sejak dilaksanakannya program pengaderan tersebut, gerak NU lebih dinamis dibandingkan sebelumnya. Mereka dapat mengikuti program pengaderan tingkat menengah dan dilanjutkan dengan akademi NU.

Konsep pengaderan NU merupakan bagian integral dari gerakan khidmah NU kepada umat dan bangsa. Akan ada ukuran kinerja di masing-masing tingkat kepengurusan NU. Pada kepengurusan NU yang memiliki prestasi, mereka akan mendapatkan penghargaan (reward), namun bagi kepengurusan NU yang kinerjanya buruk, mereka akan mendapatkan hukuman (punishment).

Para pengurus yang telah selesai menjalani pengaderan, tetapi kinerja organisasi NU di tempatnya mengabdi biasa-biasa saja atau bahkan tidak melakukan sesuatu, maka ia tidak mengimplementasikan konsep harakah yang menjadi pilar penting organisasi. Dalam konteks ini, pengaderan belum mencapai target yang sesungguhnya.

Menjadi pengurus NU tidak dapat menggunakan pendekatan sekadarnya, sebisanya, seikhlasnya. Jika memang tidak siap berkhidmah, biarlah orang lain yang berperan, yang bisa bekerja dan berkontribusi lebih baik. Di sinilah pengaderan memiliki posisi penting untuk memastikan semua pengurus memiliki amaliah, fikrah, dan harakah yang sama. (Achmad Mukafi Niam)

Sumber: https://www.nu.or.id/risalah-redaksi/menata-kaderisasi-meningkatkan-kinerja-organisasi-ercaT

  • Penulis: admin

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pelatihan Kepemimpinan Dasar Ansor Balapulang: Ikhtiar Melahirkan Pemimpin Adaptif, Militan, dan Berwawasan Kebangsaan photo_camera 6

    Pelatihan Kepemimpinan Dasar Ansor Balapulang: Ikhtiar Melahirkan Pemimpin Adaptif, Militan, dan Berwawasan Kebangsaan

    • calendar_month Kamis, 30 Jul 2026
    • account_circle Ansor Balapulang
    • visibility 290
    • 0Komentar

    “Melalui Pelatihan Kepemimpinan Dasar 2026 ini, kami berharap ke depan akan lahir kader-kader Ansor baru yang inovatif, yang tidak hanya menjalankan rutinitas organisasi, melainkan mampu menjawab tantangan sosial masyarakat terkini”. Ujar Evant.

  • Ansor Balapulang Luncurkan Logo Ansor Media Balapulang

    Ansor Balapulang Luncurkan Logo Ansor Media Balapulang

    • calendar_month Minggu, 13 Agt 2023
    • account_circle admin
    • visibility 79
    • 0Komentar

    ANSORBALAPULANG.OR.ID – Sebagai upaya memperluas jaringan informasi dan komunikasi, PAC GP ANSOR Balapulang meluncurkan logo dan Ansor Media bersamaan dengan pelantikan Lembaga dan jajaran Satkoryon Banser Kecamatan Balapulang (07/05/23). Ansor Media tersebut di antaranya membawahi beberapa platform media sosial, antara lain; fanspage Ansor Balapulang, Instagram @ansorbalapulang, YouTube Ansor Balapulang, dan website utama ansorbalapulang.or.id. Melalui berbagai […]

  • GP Ansor Jateng Desak Pemberantasan Judi Online dan Galian C Ilegal

    GP Ansor Jateng Desak Pemberantasan Judi Online dan Galian C Ilegal

    • calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
    • account_circle Iqbaal
    • visibility 59
    • 0Komentar

    Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Tengah mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum segera memberantas judi online serta aktivitas penambangan galian C ilegal yang dinilai semakin meresahkan masyarakat. Desakan tersebut muncul dalam Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) II PW GP Ansor Jawa Tengah yang digelar di Hotel Sun Q Ta, kawasan wisata Guci, Kabupaten Tegal, […]

  • Pimpinan Ranting Ansor Pagerwangi Laksanakan Rapat Anggota, Nahkoda Baru Siap Memimpin

    Pimpinan Ranting Ansor Pagerwangi Laksanakan Rapat Anggota, Nahkoda Baru Siap Memimpin

    • calendar_month Minggu, 1 Jun 2025
    • account_circle Ansor Balapulang
    • visibility 606
    • 0Komentar

    Pagerwangi, ansorbalapulang.or.id – Pimpinan Ranting Ansor Desa Pagerwangi melaksanakan kegiatan Rapat Anggota pada Sabtu, 31 Mei 2025, bertempat di Sekretariat Gedung Serbaguna Mushola Baitul Atiq Dukuh Renon Desa Pagerwangi. Rapat Anggota dihadiri oleh Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Balapulang, Kepala Desa Pagerwangi, Tanfidiyah dan Syuriyah Pimpinan Ranting Nahdlatul Ulama Pagerwangi, serta jajaran Badan Otonom, Muslimat […]

  • Pemuda Ansor Menolak Anarkisme, Mengawal Aspirasi

    Pemuda Ansor Menolak Anarkisme, Mengawal Aspirasi

    • calendar_month Selasa, 2 Sep 2025
    • account_circle Laler Ijo
    • visibility 641
    • 0Komentar

    Delapan puluh tahun merdeka adalah capaian sejarah besar bangsa Indonesia. Namun, usia yang matang ini tidak serta-merta menghadirkan keadaan bangsa yang sepenuhnya stabil. Justru setelah gegap gempita perayaan HUT ke-80, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa ketidakpuasan rakyat terhadap jalannya pemerintahan masih kerap mengemuka. Gelombang demonstrasi yang mengusung “17+8 Tuntutan Rakyat” menjadi bukti bahwa masih ada […]

  • Perbedaan Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar

    Perbedaan Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar

    • calendar_month Jumat, 7 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 329
    • 0Komentar

    Nuzulul Qur’an adalah waktu di mana Al-Qur’an pertama kali diturunkan. Di Indonesia lazim diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan, umumnya di malam hari. Hampir di seluruh tempat di Nusantara mengadakan seremoni layaknya memperingati Maulid Nabi, Isra Mi’raj dan hari besar lainnya. Banyak cara masyarakat mengisi acara Nuzulul Qur’an, mulai dari tumpengan, pengajian, istighotsah, tahlil, khataman Al-Qur’an, […]

expand_less