Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel » Bangsa yang Ramah atau Marah (?)

Bangsa yang Ramah atau Marah (?)

  • account_circle Evant Andi
  • calendar_month Selasa, 7 Mar 2023
  • visibility 332
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada apa dengan negeri ini sebenarnya? Kenapa dengan mudahnya kita menjumpai, di rumah, di jalanan, di gedung-gedung DPR, dan bahkan mirisnya ditempat-tempat ibadah, orang yang marah-marah. Bukan saja melalui tindakan, tetapi juga ujaran dan kata-kata yang seolah dipilih kasar dan menusuk. Pers atau bahkan media televisi pun tampaknya suka dengan berita dan tayangan-tayangan yang menampilkan kemarahan.

Yang lebih memprihatinkan, bahasa kemarahan tersebut juga sudah seperti tren dikalangan para intelektual dan agamawan. Khotbah keagamaan, ceramah-ceramah dan bahkan makalah ilmiah, rasanya kurang sedap jika tak dibumbui ujaran kebencian dan nada kemarahan. Bukan saja dikota-kota besar, setingkat kecamatan atau bahkan desa pun akan dengan mudah menyaksikan dan mendengarkan khotbah, atau ceramah yang dengan kebencian yang luar biasa menghujat pihak-pihak tertentu yang tidak sepaham dengan dirinya. Mereka dengan mudahnya menyuarakan kegeraman atas nama amar ma’ruf nahi munkar, lalu menganggap apa yang dikemukakan merupakan kebenaran satu-satunya. Sedangkan yang bersebrangan pasti salah, dan yang salah pasti jahanam. (gus mus)

Dari bacaan, ceramah, dan khutbah-khutbah tadi pada saatnya menjalar ke hal yang lain, seperti media komunikasi internet (medsos). Lihatlah dan bacalah apa yang ditulis orang-orang diruang khusus yang disediakan untuk mengomentari suatu berita atau opini di dunia maya, atau chat yang ditulis sesama teman didalam grup. Bahkan saudara, adik-adik kita yang bagiku untuk umur setingkat mereka, sudah dengan mudah mendapat kosa kata-kosa kata yang kurang pantas.

Kita boleh beranalisis bahwa fenomena tersebut adalah akibat dari berbagai faktor. Baik karena tekanan ekonomi, ketimpangan sosial, dan bahkan yang paling utama yaitu ketertinggalan. Namun mengingat bahwa mayoritas negeri ini beragama Islam, pengikut Nabi Muhammad SAW, fenomena tersebut tetap saja memprihatinkan. Apalagi jika para elit agama yang mengajarkan budi pekerti justru ikut larut dan menjadi pelopor tren jahiliyah tersebut.

Sekali lagi pertanyaan yang sama muncul. Ada apa dengan negeri ini? Apakah hanya karena panas global? Atau karena apa? Lalu, jika sudah seperti tadi, siapa lagi yang akan kita panuti?

Bagi umat islam, al-khairu kulluhu fittibaa’ir Rasul, yang terbaik dan paling baik adalah mengikuti jejak Rasul Muhammad SAW. Dan ini perintah Allah. Nabi Muhammad sebagaimana dikisahkan dalam Al-Quran, beliau memiliki keluhuran budi yang luar biasa, lemah lembut, tidak kasar dan tidak kaku. Kesaksian para sahabat sepakat bahwa panutan agung kita benar-benar teladan. Pribadi yang mulia, tidak bengis, tidak kasar. Tidak suka mengumpat dan memaki, tidak menegur dengan cara yang menyakitkan hati, tidak membalas keburukan dengan keburukan, melainkan memaafkan.

Bagi Nabi Muhammad SAW, orang yang paling mulia bukanlah orang yang paling pandai, atau orang yang fasih berbicara, bagi beliau orang yang mulia ialah orang yang mulia akhlaqnya.

Penulis

Suka menulis yang agak serius, tapi kadang receh.

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rapat Koordinasi dan Sertijab Kasatkoryon BANSER Balapulang

    Rapat Koordinasi dan Sertijab Kasatkoryon BANSER Balapulang

    • calendar_month Senin, 10 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 323
    • 0Komentar

    BALAPULANG – Ahad, 9 April 2023 bertempat di gedung Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Balapulang telah dilaksanakan serah terima jabatan Kasatkoryon periode sebelumnya Endang Aris Kurniawan kepada Kasatkoryon terpilih Ali Imron. Prosesi serah terima jabatan dihadiri dan disaksikan oleh Pimpinan Anak Cabang GP ANSOR Kecamatan Balapulang, Korwil 6 BANSER Kabupaten Tegal, Kasatprovost Pimpinan Cabang […]

  • Silaturahmi Perdana, PAC GP Ansor Balapulang Samakan Visi Calon Pengurus

    Silaturahmi Perdana, PAC GP Ansor Balapulang Samakan Visi Calon Pengurus

    • calendar_month Selasa, 24 Jun 2025
    • account_circle Ansor Balapulang
    • visibility 810
    • 0Komentar

    Ansor Balapulang – Rapat perdana calon pengurus harian Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Balapulang hasil tim formatur Masa Khidmat 2025-2028 dikemas dengan silaturahmi dilaksanakan di rumah Sahabat Evant, selaku ketua mandataris PAC GP Ansor Balapulang pada Senin, 23 Juni 2025. Saat memberikan sambutan, Evant mengatakan kepada calon pengurus harian PAC GP Ansor Balapulang Masa Khidmat […]

  • Tahlilan dan Akulturasi Budaya Austronesia

    Tahlilan dan Akulturasi Budaya Austronesia

    • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
    • account_circle admin
    • visibility 97
    • 0Komentar

    Masyarakat masa itu mulai mengenal sistem perhitungan waktu yang lebih sistematis untuk mengenang arwah melalui upacara yang dikenal dengan nama Sraddha. Pada masa ini, kebiasaan berkumpul peninggalan era Austronesia mendapatkan struktur waktu pelaksanaannya secara spesifik.

  • Terpilih Secara Aklamasi, Evant Andi Aenurohman Nahkoda Baru GP Ansor Balapulang 2025 – 2028

    Terpilih Secara Aklamasi, Evant Andi Aenurohman Nahkoda Baru GP Ansor Balapulang 2025 – 2028

    • calendar_month Selasa, 27 Mei 2025
    • account_circle Ansor Balapulang
    • visibility 927
    • 1Komentar

    Perhelatan Konferensi Anak Cabang (Konferancab) VIII Gerakan Pemuda Ansor Balapulang, Ahad (18/05/2025) berlangsung lancar. Forum permusyawaratan tertinggi GP Ansor tingkat Anak Cabang yang digelar di Gedung MWC NU Balapulang tersebut secara mufakat menetapkan Evant Andi Aenurohman sebagai Ketua Terpilih Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Balapulang Masa Khidmat 2025-2028.

  • Mengatasi Perbedaan Cara Hormat Santri Terhadap Guru Formal dan Guru Ngaji

    Mengatasi Perbedaan Cara Hormat Santri Terhadap Guru Formal dan Guru Ngaji

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • account_circle Ahmad Nahrowi
    • visibility 30
    • 0Komentar

    Boleh jadi, melalui seorang guru formal yang sering kita sepelekan itulah Allah membuka jalan bagi masa depan kita. Jangan-jangan selama ini kita keliru memahami takdzim. Kita begitu pandai menundukkan kepala di hadapan Kiai, tetapi begitu sulit menundukkan ego di hadapan guru formal.

  • Berkibarnya Jolly Roger, Metafora Ketidakpuasan Publik

    Berkibarnya Jolly Roger, Metafora Ketidakpuasan Publik

    • calendar_month Minggu, 3 Agt 2025
    • account_circle Evant Andi
    • visibility 1.074
    • 0Komentar

    Terdapat sebuah pemandangan yang kontras muncul di permulaan bulan kemerdekaan Republik ini. Para supir truk yang biasanya mengibarkan bendera merah putih di tiang atau besi penyangga spion truknya setiap menyambut bulan Agustus, tahun ini memutuskan untuk tidak mengibarkannya. Mereka memprotes kebijakan penegakan aturan ODOL (Over Dimension Over Load) yang terasa timpang. Supir yang hanya menjalankan […]

expand_less