Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel » Perbedaan Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar

Perbedaan Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar

  • account_circle admin
  • calendar_month Jumat, 7 Apr 2023
  • visibility 331
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Nuzulul Qur’an adalah waktu di mana Al-Qur’an pertama kali diturunkan. Di Indonesia lazim diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan, umumnya di malam hari. Hampir di seluruh tempat di Nusantara mengadakan seremoni layaknya memperingati Maulid Nabi, Isra Mi’raj dan hari besar lainnya. Banyak cara masyarakat mengisi acara Nuzulul Qur’an, mulai dari tumpengan, pengajian, istighotsah, tahlil, khataman Al-Qur’an, dan sebagainya.

Sementara Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar (Surat al-Qadar ayat 1), yaitu malam paling spesial di bulan suci, malam yang sangat diharapkan seluruh umat Muhammad, ia lebih baik dari pada seribu bulan. Pendapat yang paling populer bahwa Lailatul Qadar terjadi di sepuluh akhir bulan Ramadhan, salah satu indikasinya Nabi sangat menekankan I’tikaf dan ibadah lainnya di waktu-waktu tersebut.  

Pertanyaannya kemudian, bagaimana korelasi antara dua narasi di atas? Mengapa bisa berbeda antara peringatan Nuzulul Qur’an dan diturunkannya Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar?  

Beberapa pakar tafsir menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan dua kali proses. Pertama, diturunkan secara keseluruhan (jumlatan wahidah). Kedua, diturunkan secara bertahap (najman najman). Sebelum diterima Nabi di bumi, Allah terlebih dahulu menurunkannya secara menyeluruh di langit dunia, dikumpulkan jadi satu di Baitul Izzah. Selanjutnya malaikat Jibril menurunkannya kepada Nabi di bumi secara berangsur, ayat demi ayat, di waktu yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan selama dua puluh tahun, pendapat lain dua puluh satu tahun. Pakar tafsir terkemuka, Syekh Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi menegaskan:

وَلَا خِلَافَ أَنَّ الْقُرْآنَ أُنْزِلَ مِنَ اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ لَيْلَةَ الْقَدْرِ عَلَى مَا بَيَّنَّاهُ جُمْلَةً وَاحِدَةً، فَوُضِعَ فِي بَيْتِ الْعِزَّةِ فِي سَمَاءِ الدُّنْيَا، ثُمَّ كَانَ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْزِلُ بِهِ نَجْمًا نَجْمًا فِي الْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي وَالْأَسْبَابِ، وَذَلِكَ فِي عِشْرِينَ سَنَةً.  

“Tidak ada perbedaan bahwa Al-Qur’an diturunkan dari Lauh al-Mahfuzh pada malam Lailatul Qadar secara keseluruhan seperti penjelasan kami. Maka Al-Qur’an terlebih dahulu diletakan di Baitul Izzah di langit dunia. Kemudian Jibril menurunkannya secara berangsur tentang perintah, larangan dan sebab-sebab lainnya. Demikian itu terjadi selama 20 tahun.”

   وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أُنْزِلَ الْقُرْآنَ مِنَ اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ جُمْلَةً وَاحِدَةً إِلَى الْكَتَبَةِ فِي سَمَاءِ الدنيا، ثم نزل بِهِ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ نُجُومًا- يَعْنِي الْآيَةَ وَالْآيَتَيْنِ- فِي أَوْقَاتٍ مُخْتَلِفَةٍ فِي إِحْدَى وَعِشْرِينَ سَنَةً  

Artinya: “Sahabat Ibnu Abbas berkata, Al-Qur’an diturunkan dari Lauh al-Mahfuzh secara menyeluruh kepada para malaikat pencatat wahyu di langit dunia, kemudian Jibril turun membawanya secara berangsur, satu dan dua ayat, di waktu yang berbeda-beda selama 21 tahun.” (Syekh Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an/Tafsir al-Qurthubi, juz 2, hal. 297).  

Proses turunnya Al-Qur’an secara total ini terjadi di bulan malam Lailatul Qadar, tepatnya malam 24 Ramadhan. Pendapat ini sebagaimana ditegaskan dalam riwayat Ibnu Abbas dan Watsilah bin al-Asqa’.  

Imamul Mufassirin (pemimpin para pakar tafsir), Syekh Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari menyampaikan riwayat tersebut dalam kitab tafsirnya sebagai berikut:

كَمَا حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ قَالَ ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ أَبِي الْأَشْرَسِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ أُنْزِلَ الْقُرْآنُ جُمْلَةً مِنَ الذِّكْرِ فِي لَيْلَةِ أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ مِنْ رَمَضَانَ، فَجُعِلَ فِي بَيْتِ الْعِزَّةِ  

Artinya: “Sebagaimana bercerita kepadaku Abu Kuraib, beliau berkata, bercerita kepadaku Abu Bakr bin ‘Ayyasy dari al-A’masy dari Hassan bin Abi al-Asyras dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas beliau berkata; Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan pada malam 24 dari bulan Ramadhan, kemudian diletakan di Baitul Izzah.”

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ، قَالَ: ثنا عَبْدُ اللهِ بْنُ رَجَاءٍ، قَالَ: ثنا عِمْرَانُ الْقَطَّانُ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ ابْنِ أَبِي الْمَلِيحِ، عَنْ وَاثِلَةَ، ” عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: نَزَلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ، وَأُنْزِلَ الْقُرْآنُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ مِنْ رَمَضَانَ  

Artinya: “Bercerita kepadaku Ahmad bin Manshur, ia berkata, bercerita kepadaku Abdullah bin Raja’, ia berkata, bercerita kepadaku Imran al-Qatthan dari Qatadah dari Ibnu Abil Malih dari Watsilah dari Nabi, beliau bersabda; lembaran-lembaran Nabi Ibrahim turun pada awal bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada 6 Ramadhan, Injil diturunkan pada 13 Ramadhan, Al-Qur’an diturunkan pada 24 Ramadhan.” (Syekh Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wili Ayil Quran/ Tafsir al-Thabari, juz 3, hal. 188).  

Dalam proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap, wahyu pertama yang diterima Nabi adalah Surat al-‘Alaq dari ayat satu sampai lima. Saat Nabi mencapai usia 40 tahun, Allah mengutusnya untuk alam semesta, mengeluarkan mereka dari sesatnya kebodohan menuju terangnya pengetahuan. Tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan, 13 tahun sebelum hijrah, Nabi menerima wahyu untuk pertama kalinya.  

Pakar sejarah Nabi, Syekh Muhammad al-Khudlari Bik menegaskan:

:   بَدْءُ الْوَحْيِ (لَمَّا بَلَغَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ سِنَّ الْكَمَالِ وَهِيَ أَرْبَعُوْنَ سَنَةً أَرْسَلَهُ اللهُ لِلْعَالَمِيْنَ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا لِيُخْرِجَهُمْ مِنَ ظُلُمَاتِ الْجَهَالَةِ إِلَى نُوْرِ الْعِلْمِ وَكَانَ ذَلِكَ فِيْ أَوَّلِ فَبْرَايِرْ سَنَةَ ٦١٠ مِنَ الْمِيْلَادِ كَمَا أَوْضَحَهُ الْمَرْحُوْمُ مَحْمُوْدْ بَاشَا اَلْفَلَكِيُّ، تَبَيَّنَ بَعْدَ دِقَّةِ الْبَحْثِ أَنَّ ذَلِكَ كَانَ فِيْ ١٧ رَمَضَانَ سَنَةَ ١٣ قَبْلَ الْهِجْرَةِ وَذَلِكَ يُوَافِقُ يُوْلِيُوْ سَنَةَ ٦١٠  

Artinya: “(Fasal Pertama kali wahyu turun). Saat Nabi menginjak usia matang, yaitu 40 tahun, Allah mengutusnya untuk alam semesta seraya menggembirakan dan memperingatkan, untuk mengeluarkan mereka dari gelapnya kebodohan menuju cahaya ilmu. Demikian itu terjadi di awal bulan Februari tahun 610 Masehi seperti yang dijelaskan Syekh Mahmud Basya sang pakar astronomi. (Namun) setelah penelitian yang cermat, telah jelas bahwa peristiwa itu terjadi pada tanggal 17 Ramadhan, 13 tahun sebelum hijrah, bertepatan dengan bulan Juli tahun 610 Masehi.” (Syekh Muhammad al-Khudlari Bik, Nur al-Yaqin Fi Sirati Sayyid al-Mursalin, hal. 19)

Dari referensi di atas dapat dipahami bahwa peringatan Nuzulul Qur’an yang populer di Indonesia mengacu pada sejarah pertama kali turunnya Al-Qur’an dalam proses kedua, yaitu dari Baitul Izzah kepada Nabi di bumi.  

Perbedaan pendapat mengenai kapan wahyu pertama turun memang tidak bisa dihindari. Selain tanggal 17 Ramadhan ada pula yang berpendapat terjadi tanggal 7, 8, dan 21 Ramadhan. Bahkan beberapa pendapat ada yang menyebut bukan di bulan Ramadhan.  

Namun, perayaan Nuzulul Qur’an di setiap tanggal 17 Ramadhan yang telah turun-temurun terlaksana tanpa ada pengingkaran dari para ulama, setidaknya memiliki pembenaran dari sudut pandang sejarah menurut satu versi. Oleh karenanya, tidak perlu fanatik secara berlebihan dengan menyalahkan pihak yang berbeda dengan pendapat yang diyakini. Siapa pun boleh merayakan Nuzulul Qur’an di selain tanggal 17 Ramadhan dengan tetap menghormati pendapat lain yang berbeda.  

Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.

Sumber: www.islam.nu.or.id

  • Penulis: admin

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemuda Ansor Menolak Anarkisme, Mengawal Aspirasi

    Pemuda Ansor Menolak Anarkisme, Mengawal Aspirasi

    • calendar_month Selasa, 2 Sep 2025
    • account_circle Laler Ijo
    • visibility 644
    • 0Komentar

    Delapan puluh tahun merdeka adalah capaian sejarah besar bangsa Indonesia. Namun, usia yang matang ini tidak serta-merta menghadirkan keadaan bangsa yang sepenuhnya stabil. Justru setelah gegap gempita perayaan HUT ke-80, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa ketidakpuasan rakyat terhadap jalannya pemerintahan masih kerap mengemuka. Gelombang demonstrasi yang mengusung “17+8 Tuntutan Rakyat” menjadi bukti bahwa masih ada […]

  • Pererat Silaturahmi, PAC GP Ansor Balapulang Gelar Rangkaian Giat Ramadan hingga Ziarah Tokoh Daerah Play Button photo_camera 4

    Pererat Silaturahmi, PAC GP Ansor Balapulang Gelar Rangkaian Giat Ramadan hingga Ziarah Tokoh Daerah

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Ansor Balapulang
    • visibility 542
    • 0Komentar

    BALAPULANG – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Balapulang menggelar rangkaian kegiatan religius dan sosial yang padat pada Kamis, 12 Maret 2026. Berpusat di Gedung MWCNU Balapulang, acara ini menjadi momentum penguatan organisasi sekaligus penghormatan terhadap sejarah lokal Kabupaten Tegal. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh jajaran Pimpinan Ranting (PR) GP Ansor serta Kepala […]

  • Pelantikan PAC GP ANSOR Kecamatan Balapulang

    Pelantikan PAC GP ANSOR Kecamatan Balapulang

    • calendar_month Minggu, 26 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 396
    • 5Komentar

    BALAPULANG – Ahad, 26 Februari 2023 bertempat di gedung MWC NU Kecamatan Balapulang telah dilaksanakan Pelantikan Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda ANSOR Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal Masa Khidmat 2023-2025. Pada pelantikan tersebut, Gus Umam selaku ketua PAC terpilih  mengusung tema “Ansor Maju, Implementasi Kemandirian Ekonomi”. Tema tersebut sekaligus dilanjutkan sebagai Visi dan Misi yang akan dikerjakan […]

  • NU Online: 22 Tahun Menjadi Lentera Digital bagi Nahdliyin

    NU Online: 22 Tahun Menjadi Lentera Digital bagi Nahdliyin

    • calendar_month Selasa, 15 Jul 2025
    • account_circle Evant Andi
    • visibility 1.065
    • 0Komentar

    Di tengah derasnya arus informasi dan transformasi digital, NU Online telah membuktikan dirinya sebagai media rujukan yang tak tergantikan bagi warga Nahdliyin. Usianya yang ke-22 bukan sekadar angka, melainkan simbol konsistensi dalam menyebarkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah secara moderat, mendalam, dan relevan dengan zaman. Hasan Basri Marwah, dalam tulisannya NU Online dan Transformasi Ritmisnya, […]

  • GP Ansor Tegal Gelar Ziarah ke Makam Tokoh dan Sesepuh Kabupaten Tegal dalam Rangka HUT RI ke-80 photo_camera 2

    GP Ansor Tegal Gelar Ziarah ke Makam Tokoh dan Sesepuh Kabupaten Tegal dalam Rangka HUT RI ke-80

    • calendar_month Jumat, 15 Agt 2025
    • account_circle Ansor Balapulang
    • visibility 436
    • 0Komentar

    Balapulang, 15 Agustus 2025 — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-80, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Tegal menggelar kegiatan ziarah ke makam pendiri Kabupaten Tegal, Ki Gede Sebayu, yang berlokasi di Desa Danawarih, Kecamatan Balapulang. Kegiatan ini turut diikuti oleh jajaran Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Balapulang serta pengurus harian PAC […]

  • MDS Rijalul Ansor Balapulang Kembali Digelar, Doa Bersama Kelancaran Muktamar NU Ke 35 photo_camera 4

    MDS Rijalul Ansor Balapulang Kembali Digelar, Doa Bersama Kelancaran Muktamar NU Ke 35

    • calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
    • account_circle Ansor Balapulang
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Balapulang, Ansor Balapulang Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor PAC GP Ansor Kecamatan Balapulang kembali menggelar kegiatan rutin di gedung serba guna, Desa Pagerwangi, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, Jumat (28/8/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Rois Syuriah Nahdlatul Ulama Ranting Pagerwangi, Jajaran Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Balapulang, Pengurus MDS Rijalul Ansor PAC Ansor Balapulang, Banser, […]

expand_less