Tahlilan dan Akulturasi Budaya Austronesia
- account_circle admin
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 64
- print Cetak

Foto: Dok. Istimewa - Peringatan Wafat Keluarga NU
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
ansorbalapulang.or.id – Tradisi Tahlilan merupakan salah satu bentuk perpaduan budaya di Nusantara. Praktik mendoakan orang yang telah meninggal ini hadir sebagai hasil akulturasi panjang antara ajaran tauhid Islam dengan nilai-nilai luhur budaya lokal.
Menariknya, akar Sejarah tradisi ini bisa ditarik jauh hingga ke masa peradaban nenek moyang bangsa Indonesia, yaitu masyarakat penutur Austronesia, jauh sebelum masuknya berbagai agama besar ke Nusantara.
Tahlilan membuktikan betapa luwesnya budaya bangsa kita dalam menyerap ajaran baru dan memadukannya dengan kearifan masa lalu.
Masyarakat Austronesia pada zaman prasejarah memiliki kepercayaan animisme yang sangat menghormati roh leluhur atau karuhun.
Mereka meyakini bahwa arwah orang yang telah wafat perlu dihormati dan diantarkan dengan baik menuju alam roh demi kedamaian semua pihak.
Sebagai wujud penghormatan, keluarga, kerabat, dan tetangga sekitar akan berkumpul ramai-ramai untuk menggelar ritual bersama.
Dalam pertemuan tersebut, mereka menyembelih hewan dan menyajikan makanan untuk dinikmati bersama-sama.
Kebiasaan kumpul komunal sambil berbagi makanan sakral inilah yang menjadi fondasi awal tradisi kenduri atau selamatan di seluruh pelosok Indonesia. Kebersamaan ini juga berfungsi untuk menghibur keluarga yang sedang berduka.
Seiring berjalannya waktu, tradisi masyarakat Nusantara mengalami perkembangan saat budaya Hindu dan Buddha mulai masuk dan membaur.
Masyarakat masa itu mulai mengenal sistem perhitungan waktu yang lebih sistematis untuk mengenang arwah melalui upacara yang dikenal dengan nama Sraddha. Pada masa ini, kebiasaan berkumpul peninggalan era Austronesia mendapatkan struktur waktu pelaksanaannya secara spesifik.
Masyarakat mulai mengadakan peringatan kematian secara berjenjang, mulai dari hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, hingga peringatan puncaknya pada hari ke-1000 setelah kematian seseorang. Struktur perhitungan hari peringatan ini terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Perjalanan akulturasi budaya ini mencapai bentuk mutakhir ketika ajaran Islam menyebar di Tanah Jawa, khususnya melalui metode dakwah Walisongo.
Para ulama ini menggunakan pendekatan budaya yang sangat bijaksana, lembut, dan adaptif dalam menyebarkan agama.
Mereka mempertahankan wadah kumpul komunal warisan Austronesia beserta struktur perhitungan hari warisan Hindu, lalu mengisi seluruh rangkaian acara tersebut dengan nilai-nilai tauhid murni.
Bacaan mantra perlahan diganti dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an, terutama Surat Yasin, beserta rangkaian dzikir, tasbih, dan pengucapan kalimat Tahlil.
Begitu pula dengan sesajen, peruntukannya diubah menjadi sedekah makanan bernilai pahala yang disuguhkan kepada para tamu undangan yang hadir untuk mendoakan almarhum.
Kini, Tahlilan menjadi cerminan identitas bangsa Indonesia yang sangat menghargai Sejarah. Konsep berkumpul dan berbagi makanan dalam suasana duka adalah warisan luhur budaya Austronesia yang menjunjung tinggi kebersamaan, masih hidup di dalam masyarakat sampal hari ini.
Referensi:
Bellwood, P., Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia, ed. revisi (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000).
Geertz, C., The Religion of Java (Glencoe: The Free Press, 1960).
Lombard, D., Nusa Jawa: Silang Budaya, Jilid 2: Jaringan Asia (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996).
Mulder, N., Mysticism in Java: Ideology in Indonesia (Amsterdam: The Pepin Press, 1998).
Sunyoto, A., Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo sebagai Fakta Sejarah (Depok: Pustaka IIMaN, 2016).
Woodward, M. R., Islam in Java: Normative Piety and Mysticism in the Sultanate of Yogyakarta (Tucson: University of Arizona Press, 1989).
- Penulis: admin
- Sumber: neohistoria.id





