Fatayat NU Balapulang Ajak Kader Tanamkan Nilai Antikorupsi Mulai dari Rumah
- account_circle admin
- calendar_month 20 jam yang lalu
- visibility 80
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BALAPULANG — Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Balapulang menyelenggarakan kegiatan pendidikan antikorupsi bertema “Penanaman Nilai-Nilai Antikorupsi di Lingkungan Keluarga” di Gedung SMP Pangeran Diponegoro, Desa Batuagung, Balapulang, Jumat (16/10/2026).
Kegiatan ini merupakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) yang bekerja sama dengan PAC Fatayat NU Balapulang. Dosen FAI UNSIKA sekaligus Pengurus PAC Fatayat NU Balapulang Bidang Hukum dan Politik, Siti Khulasoh, M.Pd., hadir memimpin tim sekaligus menjadi narasumber utama.
Tim dosen UNSIKA tersebut beranggotakan Abdul Azis, S.Hum., M.Pd.; Agus Susilo Saefullah, M.Pd.I.; Lau Han Sein, M.Pd.; Abdul Hakim, M.Pd.; Nur Hasanah, M.Pd.; Shofiyana Nadia Fairuz, S.Pd.I., M.Pd.; dan Lilis Karyawati, M.Ag. Acara ini disambut langsung oleh Ketua PAC Fatayat NU Balapulang, Erni Sri Hayati, S.Pd., dan dihadiri sekitar 70 peserta yang terdiri atas jajaran pengurus PAC, pimpinan ranting, serta anak ranting se-Kecamatan Balapulang.
Dalam pemaparannya, Siti Khulasoh menekankan bahwa pendidikan antikorupsi tidak cukup berhenti pada slogan atau wacana, melainkan harus dihidupkan melalui pembiasaan sehari-hari di rumah. Keluarga dinilai sebagai madrasah pertama bagi anak untuk menyerap nilai kejujuran, amanah, keadilan, dan kepedulian sosial.
Menurutnya, penanaman karakter integritas dapat dimulai dari hal-hal mendasar. Orang tua perlu membiasakan anak meminta izin sebelum menggunakan barang orang lain, merawat dan mengembalikan barang pinjaman, serta mengenali batasan kepemilikan pribadi, keluarga, maupun orang lain. Kebiasaan ini menjadi pondasi penting dalam menghormati hak sesama dan memegang tanggung jawab.
Nilai kejujuran juga dapat diasah melalui simulasi belanja dan pengelolaan uang saku di rumah. Anak diajak menyebutkan harga secara tepat, menghitung nilai uang, dan mengembalikan uang kembalian yang berlebih. Lewat praktik langsung ini, anak memahami bahwa bertutur jujur dan pantang mengambil hak orang lain adalah prinsip mutlak.
Selain kejujuran, keluarga didorong membudayakan sedekah dan empati, seperti melalui sedekah subuh, sedekah Jumat, atau berbagi perlengkapan sekolah dan pakaian layak bagi warga yang membutuhkan. Pembiasaan tersebut menumbuhkan kepekaan sosial sekaligus menyadarkan anak bahwa harta merupakan amanah yang wajib digunakan secara bertanggung jawab.
Adapun nilai keadilan ditanamkan lewat pembagian peran domestik, seperti bergiliran memilih permainan, menyelesaikan tugas rumah tangga sesuai kapasitas, serta menghargai jatah saudara. Keadilan dalam lingkup keluarga ditekankan bukan sekadar membagi rata secara fisik, melainkan memperlakukan hak dan kebutuhan secara proporsional.
Guna memperkuat pemahaman materi, para peserta diajak mendiskusikan studi kasus nyata, seperti langkah yang harus diambil saat menemukan uang tercecer di rumah atau menghadapi perselisihan mainan antaranak. Pelatihan ditutup dengan simulasi gerak interaktif: mengacungkan jempol sebagai simbol jujur, meletakkan tangan di dada sebagai simbol amanah, merentangkan tangan sebagai simbol adil, serta mengulurkan tangan sebagai simbol peduli.
Melalui forum ini, pendidikan antikorupsi ditegaskan sebagai gerakan pembiasaan berkesinambungan yang berakar dari keluarga demi mencetak generasi penerus yang berintegritas tinggi.
Pembiasaan tersebut menumbuhkan kepekaan sosial sekaligus menyadarkan anak bahwa harta merupakan amanah yang wajib digunakan secara bertanggung jawab.
Adapun nilai keadilan ditanamkan lewat pembagian peran domestik, seperti bergiliran memilih permainan, menyelesaikan tugas rumah tangga sesuai kapasitas, serta menghargai hak saudara. Keadilan dalam lingkup keluarga ditekankan bukan sekadar membagi rata secara fisik, melainkan memperlakukan hak dan kebutuhan secara proporsional.
Guna memperkuat pemahaman materi, para peserta diajak mendiskusikan studi kasus nyata, seperti langkah yang harus diambil saat menemukan uang tercecer di rumah atau menghadapi perselisihan mainan antaranak. Pelatihan ditutup dengan simulasi gerak interaktif: mengacungkan jempol sebagai simbol jujur, meletakkan tangan di dada sebagai simbol amanah, merentangkan tangan sebagai simbol adil, serta mengulurkan tangan sebagai simbol peduli.
Melalui forum ini, pendidikan antikorupsi ditegaskan sebagai gerakan pembiasaan berkesinambungan yang berakar dari keluarga demi mencetak generasi penerus yang berintegritas tinggi.
Pesan utamanya: keluarga yang membiasakan kejujuran, amanah, keadilan, dan kepedulian berperan penting dalam menumbuhkan generasi berintegritas. Komitmen tersebut perlu diwujudkan secara konsisten, bukan hanya diucapkan saat kegiatan berlangsung.
Kontributor: Siti Khulasoh





- Penulis: admin





