Satu Dekade Hari Santri: Kemenag Siapkan Wajah Modern dan Inovasi Digital Pesantren
- account_circle admin
- calendar_month 21 jam yang lalu
- visibility 68
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Balapulang, Ansor Balapulang
Peringatan Hari Santri 2026 menjadi tonggak bersejarah penanda satu dekade pengakuan peran santri bagi bangsa sejak pertama kali ditetapkan pada 2016. Menyambut momentum 10 tahun ini, Kementerian Agama (Kemenag) bersiap menampilkan transformasi pesantren yang tidak hanya kokoh menjaga tradisi, tetapi juga adaptif terhadap inovasi digital dan kemandirian ekonomi.
Direktur Pesantren Kemenag Basnang Said mengatakan, peluncuran pada 22 September tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan secara resmi identitas dan pesan utama Hari Santri 2026 kepada publik.
“Pada tanggal 22 September, tentu kita sudah bisa mengeluarkan tema, kemudian logonya. Ini sengaja kita laksanakan tanggal 22 September. Maknanya adalah satu bulan menuju tanggal 22 Oktober 2026,” ujar Basnang dalam laman resmi Kemenag, Senin (14/9/2026).
Selain meluncurkan logo, pada peringatan Hari Santri tahun ini, Kemenag merancang beragam agenda interaktif yang menonjolkan multi-dimensi kehidupan pesantren, mulai dari Expo Kemandirian Pesantren, Multaqa Ma’had Aly, ajang unjuk bakat Santrivision, Festival Sarung dan Peci, hingga Surat Santri untuk Presiden.
Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag, Thobib Al Asyhar, menekankan pentingnya strategi komunikasi digital yang berbasis narasi dan karya santri dari berbagai pelosok daerah.
“Logo bukan sekadar simbol visual, melainkan kompas visi. Publikasi tahun ini berfokus pada storytelling—menceritakan inovasi, karya, dan dinamika santri lewat konten interaktif serta media sosial agar dampaknya terasa lebih luas,” jelas Thobib.
Publikasi akan diperkuat melalui video pendek, infografis, motion graphic, fotografi, serta konten interaktif di berbagai platform digital.
“Keberadaan logo itu untuk membangun identitas. Temanya untuk menyatukan pesan. Publikasinya untuk memperluas cerita. Rangkaian acaranya untuk menghadirkan pengalaman. Dan dampaknya untuk memperluas citra dan kontribusi santri serta Kementerian Agama secara umum,” tuturnya.
- Penulis: admin





