Mengatasi Perbedaan Cara Hormat Santri Terhadap Guru Formal dan Guru Ngaji
- account_circle Ahmad Nahrowi
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 24
- print Cetak

Ilutrasi Santri Putra - Pinterest irfan khanifudin
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
ansorbalapulang.or.id – Saat jam istirahat seorang siswa kembali ke Pondok, kala berpapasan dengan Mbah Nyai santri putri itu saya lihat menunduk penuh takdzim, bahkan saat bicara pun tidak berani kontak mata, begitu kembali ke Sekolah, pemandangan kontras terjadi, santri yang sama tadi dihadapan Bu Guru Formal sikapnya tidak sama, hormatnya beda, boro-boro menunduk, diatur pun susah. Saya mengamati beberapa hari memang terjadi disparasi adab santri terhadap Guru formal dan Guru Ngaji.
Kemudian, saya memberi arahan yang lumayan bikin mereka mindblowing. “Teman-teman Mbah Nyai dan Guru Formal disini adalah sama-sama guru yang memberi kalian ilmu, lantas mengapa kalian membeikan penghormatan yang timpang?” suasana sunyi, mereka diam.
Saya tahu Mbah Nyai itu sudah tidak aktif mengajar, kemudain saya tanya, “Teman-teman sampai saat ini frekuensi ilmu yang diberikan Mbah Nyai dan Bu Guru Formal lebih banyak mana?”
“Banyak Guru Formal Pak” Jawab salah satu dari mereka dengan nada malu.
“Kemudian siapa yang lebih sering mengajar dan memberikan ilmu ke kalian?”
“Guru Formal Pak” Jawab mereka lirih.
Okey, selanjutnya ketika kalian nanti lulus, dalam hal mau sekolah SMA atau tingkat selanjutnya, lalu kalian butuh Ijazah nanti guru mana yang akan kalian datangi, Guru di Pondok atau Guru di Sekolah?”
“Guru Sekolah Pak”, Jawab mereka, lebih kompak dan tidak malu-malu lagi.
“Nah kan, mau tidak mau, suka tidak suka, dalam konteks pendidikan dan karir formal, kalian akan lebih membutuhkan guru formal daripada guru pondok, tapi kita lihat sendiri kayak apa perlakuan kalian ke guru formal, sangat timpang, beberapa guru kalian hormati, beberapa yang lain kalian sepelekan, parahnya lagi Mbah Nyai yang memberi ilmu kalian lebih minim, takdzim kalian malah luarbiasa totalitas, coba pikirkan pakai logika dan perasaan kalian”.
Kelas kembali hening, entah apa yang ada dipikirkan mereka, tapi saya yakin ini adalah keterangan pertama yang baru mereka dengar.
Saya kemudian mengajak mereka mentafakuri tentang dawuh Sayyidina Ali bahwa:
أنا عبد من علمني ولو حرفا واحدا
Artinya, “Aku adalah hamba atau budak bagi siapapun yang mengajarkan ilmu kepadaku, walau hanya satu hufur.”
Tentu guru formal yang memberikan ilmu seabrek itu sangat layak masuk pada kategori orang yang -menurut Sayyidini Ali- kita rela menjadi budaknya atau bahasa enaknya kita menghormati secara totalitas, sebagaimanae kita menghormati guru ngaji atau menghormati Kiai. Bahkan ketika Sayyidina Ali Sang Babul ilmi begitu totalitas terhadap gurunya, Lantas bagaimana dengan kita yang lam yakun syaian madzkuro & dudu sopo-sopo ini?
Memang perlu diakui, bahwa pesantren kemasukan Pendidikan formal merupakan hal yang baru, banyak santri dari awal niatnya berangkat ke Pondok sudah berorientasi pada ngaji saja, sekolah sebagai sampingan, maka diksinya mondok sambil sekolah.
Jadi turut berpengaruh pula pada penghormatan terhadap Guru Formal hanya sekadar sampingan, Namun ironinya fakta berbicara ketika di Rumah santri sangat butuh akan ijazah dan ilmu-ilmu formal.
Dalam ta’limnya Syekh Zarnuji sudah men Nyepil
اعلم أن طالب العلم لا ينال العلم ولا ينتفع به إلا بتعظيم العلم وأهله، وتعظيم الأستاذ وتوقيره. قيل: ما وصل من وصل إلا بالحرمة، وما سقط من سقط إلا بترك الحرمة
“Bahwa seorang penuntut ilmu tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan mendapatkan manfaat darinya kecuali dengan mengagungkan ilmu dan orang-orang yang memilikinya, serta menghormati dan memuliakan gurunya.”
Dikatakan “Tidaklah seseorang mencapai keberhasilan kecuali dengan menjaga kehormatan, dan tidaklah seseorang jatuh (gagal) kecuali karena meninggalkan kehormatan.”
Umpama ada santri di Rumah susah mendapatkan pekerjaan di sektor formal boleh jadi itu imbas dari keteledorannya dalam
menghormati guru formal.
Menghormati guru formal memang tidak harus sama persis dengan penghormatan kepada Kiai atau guru ngaji, karena dalam beberapa kondisi takdzim yang harus nunduk-nunduk itu akan menganggu pembelajaran dan terkesan tidak efektit, namun pointnya adalah tetap menghormati guru formal meskipun tidak sama persis dengan penghormatan kepada Kiai, setidaknya tidak menyepelakn Guru formal dan memenuhkan kesadaran bahwa kita butuh ilmunya.
Atau seminimal mungkin cara menghomrati guru formal seperti yang diajarkan Syekh Zarnuji dalam ta’limnya
ألا يمشى أمامه، ولا يجلس مكانه، ولا يبتدئ بالكلام عنده إلا بإذنه، ولا يكثر الكلام عنده، ولا يسأل شيئًا عند ملالته، ويراعى الوقت
“tidak berjalan di depannya, tidak duduk di tempat duduknya, tidak memulai berbicara di hadapannya kecuali dengan izinnya, tidak banyak berbicara di hadapannya, tidak mengajukan pertanyaan ketika guru lelah, dan disiplin waktu.”
Intinya, adab seorang murid kepada guru formal bukan hanya dalam cara berbicara, tetapi juga dalam sikap, menejemen waktu, tahu posisi, dan cara meminta ilmu.
Walhasil, bukan tentang siapa yang harus lebih ditakdzimi, antara Kiai, Nyai, guru ngaji, atau guru formal. Yang terpenting adalah bagaimana kita memahami makna ilmu, Jangan sampai kita begitu tunduk di hadapan guru yang menjadi pembimbing dijalan akhirat, tetapi kehilangan sopan santun di hadapan guru yang memberi arah untuk mencari nafkah dunia.
Boleh jadi, melalui seorang guru formal yang sering kita sepelekan itulah Allah membuka jalan bagi masa depan kita. Jangan-jangan selama ini kita keliru memahami takdzim. Kita begitu pandai menundukkan kepala di hadapan Kiai, tetapi begitu sulit menundukkan ego di hadapan guru formal. Maka hal ini perlu kita revolusi dan kita renungi direlung hati. Sekian Wallohua’lam.
- Penulis: Ahmad Nahrowi
- Editor: ev@nt
- Sumber: https://www.instagram.com/p/DdeF8I6lLSM/?stkn=MTZtMHBkdTZkNnZsag==





