Sambut Hari Santri Nasional, MWCNU Balapulang Gelar Istighosah dan Doa Bersama
- account_circle admin
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 13
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BALAPULANG — Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Balapulang menggelar kegiatan istighosah dan doa bersama dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN), Rabu (21/10/2026) malam. Acara yang bertempat di Gedung MWCNU Balapulang tersebut dihadiri oleh jajaran syuriah, pengurus harian tanfidziyah, perwakilan lembaga MWCNU, serta pimpinan badan otonom (Banom) NU Kecamatan Balapulang.
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan istighosah dan doa bersama yang dipimpin secara khidmat oleh Kyai Dardiri.
Perwakilan Panitia HSN MWCNU Balapulang, Muhamad Aprido, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran para pengurus di tengah kesibukan masing-masing.
“Saya sampaikan terima kasih, panjenengan sudah hadir. Yang sibuk, semoga diberi kemudahan dalam menjalankan aktivitas,” tutur Aprido.
Aprido memaparkan bahwa peringatan HSN di tingkat MWC telah berlangsung dinamis sejak 17 Oktober 2026. Berbagai perlombaan antarsantri sukses digelar, mulai dari lomba baca kitab, tenis meja, sepak bola santri, hingga paduan suara. Ia pun mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk turut menyukseskan puncak peringatan keesokan harinya.
“Ayo kita hadir bersama, kalau bukan kita siapa lagi,” serunya saat menjelaskan teknis pelaksanaan upacara bendera dan kirab santri sebagai puncak kemeriahan HSN.
Apresiasi juga datang dari Ketua Tanfidziyah MWCNU Balapulang, KH Taufiq Faizin. Selain mengapresiasi dedikasi panitia pelaksana, ia menekankan signifikansi sejarah lahirnya Hari Santri yang berakar dari Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 fatwa Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang membakar perlawanan santri dan ulama dalam mempertahankan kedaulatan republik.
“Hari santri adalah hadiah dari NU, maka kita sebagai nahdliyin harus bangga,” tegas KH Taufiq Faizin di hadapan para hadirin.
Acara kemudian dipungkasi dengan mauidhoh hasanah oleh Rais Syuriah MWCNU Balapulang, Kyai Mujiburrohman. Gus Mujib, sapaan akrabnya, mengajak seluruh struktur dan jemaah untuk merawat tiga akar tradisi NU:
Tradisi Keilmuan (Ngaji): Senantiasa meramaikan dan menghidupkan majelis-majelis taklim yang diselenggarakan oleh MWCNU. Ahad Pon, Ahad Wage.
Kemandirian Ekonomi: Memperkuat ekonomi organisasi agar mandiri dan tidak menjadi beban bagi masyarakat sekitar.
Toleransi dan Ukhuwah: Terbuka dalam menerima perbedaan serta aktif menjaga kerukunan agar tidak timbul perpecahan di tengah masyarakat.
- Penulis: admin





