Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Mengatasi Perbedaan Cara Hormat Santri Terhadap Guru Formal dan Guru Ngaji

Mengatasi Perbedaan Cara Hormat Santri Terhadap Guru Formal dan Guru Ngaji

  • account_circle Ahmad Nahrowi
  • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
  • visibility 161
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

ansorbalapulang.or.id – Saat jam istirahat seorang siswa kembali ke Pondok, kala berpapasan dengan Mbah Nyai santri putri itu saya lihat menunduk penuh takdzim, bahkan saat bicara pun tidak berani kontak mata, begitu kembali ke Sekolah, pemandangan kontras terjadi, santri yang sama tadi dihadapan Bu Guru Formal sikapnya tidak sama, hormatnya beda, boro-boro menunduk, diatur pun susah. Saya mengamati beberapa hari memang terjadi disparasi adab santri terhadap Guru formal dan Guru Ngaji.

Kemudian, saya memberi arahan yang lumayan bikin mereka mindblowing. “Teman-teman Mbah Nyai dan Guru Formal disini adalah sama-sama guru yang memberi kalian ilmu, lantas mengapa kalian membeikan penghormatan yang timpang?” suasana sunyi, mereka diam.

Saya tahu Mbah Nyai itu sudah tidak aktif mengajar, kemudain saya tanya, “Teman-teman sampai saat ini frekuensi ilmu yang diberikan Mbah Nyai dan Bu Guru Formal lebih banyak mana?”

“Banyak Guru Formal Pak” Jawab salah satu dari mereka dengan nada malu.

“Kemudian siapa yang lebih sering mengajar dan memberikan ilmu ke kalian?”

“Guru Formal Pak” Jawab mereka lirih.

Okey, selanjutnya ketika kalian nanti lulus, dalam hal mau sekolah SMA atau tingkat selanjutnya, lalu kalian butuh Ijazah nanti guru mana yang akan kalian datangi, Guru di Pondok atau Guru di Sekolah?”

“Guru Sekolah Pak”, Jawab mereka, lebih kompak dan tidak malu-malu lagi.

“Nah kan, mau tidak mau, suka tidak suka, dalam konteks pendidikan dan karir formal, kalian akan lebih membutuhkan guru formal daripada guru pondok, tapi kita lihat sendiri kayak apa perlakuan kalian ke guru formal, sangat timpang, beberapa guru kalian hormati, beberapa yang lain kalian sepelekan, parahnya lagi Mbah Nyai yang memberi ilmu kalian lebih minim, takdzim kalian malah luarbiasa totalitas, coba pikirkan pakai logika dan perasaan kalian”.

Kelas kembali hening, entah apa yang ada dipikirkan mereka, tapi saya yakin ini adalah keterangan pertama yang baru mereka dengar.
Saya kemudian mengajak mereka mentafakuri tentang dawuh Sayyidina Ali bahwa:

أنا عبد من علمني ولو حرفا واحدا

Artinya, “Aku adalah hamba atau budak bagi siapapun yang mengajarkan ilmu kepadaku, walau hanya satu hufur.”

Tentu guru formal yang memberikan ilmu seabrek itu sangat layak masuk pada kategori orang yang -menurut Sayyidini Ali- kita rela menjadi budaknya atau bahasa enaknya kita menghormati secara totalitas, sebagaimanae kita menghormati guru ngaji atau menghormati Kiai. Bahkan ketika Sayyidina Ali Sang Babul ilmi begitu totalitas terhadap gurunya, Lantas bagaimana dengan kita yang lam yakun syaian madzkuro & dudu sopo-sopo ini?

Memang perlu diakui, bahwa pesantren kemasukan Pendidikan formal merupakan hal yang baru, banyak santri dari awal niatnya berangkat ke Pondok sudah berorientasi pada ngaji saja, sekolah sebagai sampingan, maka diksinya mondok sambil sekolah.

Jadi turut berpengaruh pula pada penghormatan terhadap Guru Formal hanya sekadar sampingan, Namun ironinya fakta berbicara ketika di Rumah santri sangat butuh akan ijazah dan ilmu-ilmu formal.

Dalam ta’limnya Syekh Zarnuji sudah men Nyepil

اعلم أن طالب العلم لا ينال العلم ولا ينتفع به إلا بتعظيم العلم وأهله، وتعظيم الأستاذ وتوقيره. قيل: ما وصل من وصل إلا بالحرمة، وما سقط من سقط إلا بترك الحرمة

“Bahwa seorang penuntut ilmu tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan mendapatkan manfaat darinya kecuali dengan mengagungkan ilmu dan orang-orang yang memilikinya, serta menghormati dan memuliakan gurunya.”

Dikatakan “Tidaklah seseorang mencapai keberhasilan kecuali dengan menjaga kehormatan, dan tidaklah seseorang jatuh (gagal) kecuali karena meninggalkan kehormatan.”

Umpama ada santri di Rumah susah mendapatkan pekerjaan di sektor formal boleh jadi itu imbas dari keteledorannya dalam
menghormati guru formal.

Menghormati guru formal memang tidak harus sama persis dengan penghormatan kepada Kiai atau guru ngaji, karena dalam beberapa kondisi takdzim yang harus nunduk-nunduk itu akan menganggu pembelajaran dan terkesan tidak efektit, namun pointnya adalah tetap menghormati guru formal meskipun tidak sama persis dengan penghormatan kepada Kiai, setidaknya tidak menyepelakn Guru formal dan memenuhkan kesadaran bahwa kita butuh ilmunya.

Atau seminimal mungkin cara menghomrati guru formal seperti yang diajarkan Syekh Zarnuji dalam ta’limnya

ألا يمشى أمامه، ولا يجلس مكانه، ولا يبتدئ بالكلام عنده إلا بإذنه، ولا يكثر الكلام عنده، ولا يسأل شيئًا عند ملالته، ويراعى الوقت

“tidak berjalan di depannya, tidak duduk di tempat duduknya, tidak memulai berbicara di hadapannya kecuali dengan izinnya, tidak banyak berbicara di hadapannya, tidak mengajukan pertanyaan ketika guru lelah, dan disiplin waktu.”

Intinya, adab seorang murid kepada guru formal bukan hanya dalam cara berbicara, tetapi juga dalam sikap, menejemen waktu, tahu posisi, dan cara meminta ilmu.

Walhasil, bukan tentang siapa yang harus lebih ditakdzimi, antara Kiai, Nyai, guru ngaji, atau guru formal. Yang terpenting adalah bagaimana kita memahami makna ilmu, Jangan sampai kita begitu tunduk di hadapan guru yang menjadi pembimbing dijalan akhirat, tetapi kehilangan sopan santun di hadapan guru yang memberi arah untuk mencari nafkah dunia.

Boleh jadi, melalui seorang guru formal yang sering kita sepelekan itulah Allah membuka jalan bagi masa depan kita. Jangan-jangan selama ini kita keliru memahami takdzim. Kita begitu pandai menundukkan kepala di hadapan Kiai, tetapi begitu sulit menundukkan ego di hadapan guru formal. Maka hal ini perlu kita revolusi dan kita renungi direlung hati. Sekian Wallohua’lam.

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dua Logo, Satu Semangat: Menelisik Makna Filosofis Logo Hari Santri 2026 Versi Kemenag dan PBNU

    Dua Logo, Satu Semangat: Menelisik Makna Filosofis Logo Hari Santri 2026 Versi Kemenag dan PBNU

    • calendar_month Minggu, 4 Okt 2026
    • account_circle Evant Andi
    • visibility 1.339
    • 0Komentar

    Hari Santri Nasional diperingati setiap tahunnya pada tanggal 22 Oktober. Penentuan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri oleh Presiden Joko Widodo. Dalam perjalanannya, Hari Santri merupakan supremasi dari perjuangan para santri dan ulama pesantren. Peringatan Hari Santri Nasional tak lepas dari akar sejarah panjang kemerdekaan Indonesia. Hari […]

  • Rapat Kerja Pengurus Harian PAC GP Ansor Balapulang Dikemas dengan Retreat dan Makrab Play Button photo_camera 5

    Rapat Kerja Pengurus Harian PAC GP Ansor Balapulang Dikemas dengan Retreat dan Makrab

    • calendar_month Senin, 22 Des 2025
    • account_circle admin
    • visibility 538
    • 0Komentar

    Ansor Balapulang – Pengurus Harian PAC GP Ansor Balapulang menggelar rapat kerja yang dikemas dalam suasana retreat dan malam keakraban (makrab) di Villa Darul Furqon, kawasan wisata Guci, Tegal. Acara ini dihadiri oleh seluruh jajaran pengurus harian dan berlangsung penuh semangat kebersamaan (Guci, 30 November 2025). Acara dibuka dengan sholat berjamaah, tahlil, dan doa bersama […]

  • Sepak Terjang Muslimat NU

    Sepak Terjang Muslimat NU

    • calendar_month Kamis, 30 Mar 2023
    • account_circle Ansor Balapulang
    • visibility 417
    • 2Komentar

    Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) hari ini genap berusia 77 tahun. Organisasi bagi perempuan Nahdliyin ini berdiri pada 29 Maret 1946 M atau bertepatan dengan tanggal 21 Rabiul Akhir 1365 H di Purwokerto, Jawa Tengah. Hal ini disepakati oleh para ulama NU pada Muktamar Ke-16 NU di kota tersebut, sebagaimana disebut dalam Ensiklopedia NU. Pada mulanya, […]

  • NU Bukan Alat Politik, Melainkan Rumah Khidmat Umat

    NU Bukan Alat Politik, Melainkan Rumah Khidmat Umat

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Mustofa Mi'roj
    • visibility 720
    • 0Komentar

    Ansor Balapulang Di tengah semakin kaburnya batas antara pengabdian dan kepentingan, Nahdlatul Ulama kembali diuji untuk setia pada jati dirinya. NU lahir bukan untuk menjadi kendaraan politik praktis, apalagi alat legitimasi kekuasaan. NU didirikan sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang tugas utamanya adalah melayani umat. Ruh inilah yang harus ditegaskan kembali dalam Konferensi MWCNU Balapulang 2026. […]

  • Ansor Balapulang Luncurkan Logo Ansor Media Balapulang

    Ansor Balapulang Luncurkan Logo Ansor Media Balapulang

    • calendar_month Minggu, 13 Agt 2023
    • account_circle admin
    • visibility 147
    • 0Komentar

    ANSORBALAPULANG.OR.ID – Sebagai upaya memperluas jaringan informasi dan komunikasi, PAC GP ANSOR Balapulang meluncurkan logo dan Ansor Media bersamaan dengan pelantikan Lembaga dan jajaran Satkoryon Banser Kecamatan Balapulang (07/05/23). Ansor Media tersebut di antaranya membawahi beberapa platform media sosial, antara lain; fanspage Ansor Balapulang, Instagram @ansorbalapulang, YouTube Ansor Balapulang, dan website utama ansorbalapulang.or.id. Melalui berbagai […]

  • PAC GP Ansor Balapulang Audiensi dengan Camat Balapulang, Bangun Sinergi Kelembagaan

    PAC GP Ansor Balapulang Audiensi dengan Camat Balapulang, Bangun Sinergi Kelembagaan

    • calendar_month Kamis, 3 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 554
    • 0Komentar

    Balapulang, 2 Juli 2025 — Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Balapulang melakukan audiensi resmi dengan Camat Balapulang di Kantor Kecamatan. Kegiatan ini bertujuan membangun komunikasi strategis serta memperkuat sinergi antara GP Ansor dan pemerintah kecamatan dalam mendukung program kepemudaan dan sosial kemasyarakatan. Rombongan pengurus GP Ansor Balapulang yang dipimpin oleh Ketua PAC hadir […]

expand_less