Refleksi Aksi Pemuda di Hari Sumpah Pemuda 2026
- account_circle admin
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 43
- print Cetak

Massa aksi mengacungkan tiga jari saat demonstrasi di kawasan Tugu Tani, Jakarta, Selasa, 20 Oktober 2026, sebagai simbol yang maknanya bergantung pada konteks aksi. suaramerdeka.com
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BALAPULANG — Peringatan Hari Sumpah Pemuda pada Rabu (28/10/2026) kembali diwarnai oleh gelombang dinamika kepemudaan. Berbagai elemen mahasiswa dan organisasi kepemudaan di sejumlah daerah serentak menggelar aksi penyampaian aspirasi demi menuntut keadilan sosial dan penegakan supremasi hukum. Namun, ada satu pemandangan menonjol yang menyita perhatian publik di jalanan maupun jagat media sosial: maraknya gestur three-finger salute atau simbol salam tiga jari.
Simbol tiga jari ini masif dikampanyekan oleh aliansi mahasiswa, salah satunya yang tergabung dalam Komite Seruan Keadilan Rakyat (Sadar). Gestur ini menjadi identitas visual baru yang menghiasi linimasa digital hingga aksi lapangan, termasuk dalam taktik aksi mahasiswa menembus titik-titik krusial ibu kota seperti kawasan Bundaran HI.
Jejak Sejarah dan Makna Universal
Secara sosiologis dan historis, salam tiga jari tidak lahir dari ruang hampa. Meski populer melalui adaptasi budaya pop fiksi distopia The Hunger Games—yang menggambarkan perlawanan rakyat tertindas terhadap hegemoni penguasa tirani (Capitol)—maknanya telah bertransformasi menjadi bahasa perlawanan nyata di tingkat global.
Sebelum ramai di tanah air, gestur ini telah menjadi ikon gerakan pro-demokrasi di Hong Kong (2019) dan Thailand (2020). Dalam gerakan masyarakat sipil kontemporer, tiga jari terangkat melambangkan tiga nilai fundamental: solidaritas, keadilan, dan kebebasan.
Simbol itu terus menular. Pasca-kudeta militer di Myanmar pada 2021 yang menggulingkan Presiden Win Myint dan Aung San Suu Kyi, demonstran di Yangon serentak mengadopsi gestur serupa. Di Hong Kong, salam ini menyatu dengan perjuangan pro-demokrasi sejak 2014 dan 2019, berdampingan dengan bentangan payung kuning penangkal gas air mata dan busana serba hitam sebagai lambang duka atas kebebasan sipil yang dirampas.
Anatomi Bahasa Simbol: Mengapa Bukan Kepalan Tinju?
Dalam tradisi unjuk rasa, gestur tangan membawa dialektika psikologis yang berbeda:
-
Kepalan Tinju: Secara historis merepresentasikan kemarahan yang meluap, konfrontasi terbuka, dan potensi friksi fisik.
-
Tiga Jari Terangkat: Menghadirkan kritik nir-kekerasan yang tenang namun menghunjam. Ini adalah bahasa isyarat moral bahwa rakyat memilih tertib, beradab, dan menuntut kesetaraan nilai tanpa perlu merusak fasilitas publik.
Perspektif Pemuda Ansor: Merawat Nalar Kritis Bangsa
Bagi Gerakan Pemuda Ansor, dinamika yang ditunjukkan oleh kelompok mahasiswa pada momentum Hari Sumpah Pemuda ini mencerminkan bahwa nalar kritis dan sensitivitas generasi muda terhadap kondisi bangsa belum padam.
Aksi massa dan pengibaran simbol bukanlah sekadar tren konten visual di media sosial, melainkan pengingat moral bagi para pemangku kebijakan. Ketika ruang dialog formal dirasa buntu dan keadilan kerap terpinggirkan, bahasa simbol menjadi medium pembebasan yang paling lantang untuk mengetuk nurani kekuasaan.
Gerakan Pemuda Ansor senantiasa memandang bahwa pemuda adalah pilar penjaga kompas moral bangsa. Merawat akal sehat, berpihak pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas), dan mengingatkan penguasa agar tetap tegak lurus pada amanah konstitusi merupakan bagian tak terpisahkan dari khidmah kebangsaan.
(Tim Media GP Ansor Balapulang)
- Penulis: admin





